Rancang Bangun Penurunan AKI

Rancang bangun penurunan Angka Kematian Ibu (AKI)

Pelaku Pengadaan Barang dan Jasa

Pelaku pengadaan pada kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah tertuang dalam pasal 8 Perpres Nomor 12 tahun 2021

Analisis Faktor Determinan AKI

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kematian ibu. Beberapa faktor utama termasuk

Ruang Kerja Ideal

Ruang kerja ideal adalah sebuah lingkungan yang mendukung produktivitas, kreativitas, kenyamanan, dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Menyusun Inovasi

Menyusun inovasi pelayanan publik melibatkan beberapa tahapan yang sistematis. Berikut adalah tahapan umum yang dapat diikuti:

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Januari 2024

Pembinaaan Terpadu Puskesmas Dengan Pendekatan TPCB

Tim Pembina ini disebut sebagai Tim Pembina Cluster Binaan (TPCB) adalah tim yang dibentuk Dinas Kesehatan untuk meningkatkan mutu pelaksanaan pembinaan tersebut maka perlu dibentuk tim pembina di dinas kesehatan daerah kabupaten/kota yang melakukan pembinaan secara terpadu ke Puskesmas

Analisis yang dilakukan terhadap laporan hasil survei akreditasi Puskesmas tahun 2015-2019 dengan mengambil sampel sebanyak 369 Puskesmas manggambarkan bahwa rata-rata capaian bab akreditasi Puskesmas sebagai berikut: 

  • bab I (77.33%), 
  • bab II (77.36%), 
  • bab III (48.65%), 
  • bab IV (74.46%), 
  • bab V (74.49%), 
  • bab VI (48.06%),
  • bab VII (71.77%),
  • bab VIII (70.85%), dan
  • bab IX (47.96%). 
Dari rata-rata capaian bab I sampai dengan bab IX dapat dilihat bahwa masih terdapat variasi gap dalam pencapaian status akreditasi paripurna Puskesmas, dimana semua bab harus mencapai minimal ≥ 80%. 

Gap yang terbesar ada di bab IX (32.04%) terkait tata kelola manajemen dan risiko dan gap yang paling kecil ada di bab II (2.67%) terkait tata kelola manajemen sebagai institusi. 

Dilihat dari tingkat kelulusan akreditasi tersebut, diperoleh gambaran bahwa salah satu faktor utama penyebab Puskesmas lulus di tingkat dasar dan madya adalah penyusunan perencanaan Puskesmas yang belum berbasis pada hasil evaluasi kinerja. Hal ini dipicu oleh implementasi manajemen Puskesmas sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan yang mengatur tentang Pedoman Manajemen Puskesmas belum dilaksanakan secara optimal, yang

pada gilirannya mempengaruhi implementasi perbaikan mutu secara berkesinambungan yang tidak berjalan secara konsisten sebagaimana digambarkan pada hasil capaian akreditasi pada bab 3, 6, dan 9 yang terkait dengan perbaikan mutu.

 Agar implementasi manajemen Puskesmas dapat dilaksanakan secara optimal dan implementasi perbaikan mutu yang berkesinambungan dapat terlaksana secara konsisten maka tentunya diperlukan tata kelola institusi pelayanan kesehatan dan tata kelola pelayanan secara komprehensif, dan memiliki indikator keberhasilan yang terukur, baik dari sisi input, proses maupun output.

Untuk dapat mewujudkan tata kelola institusi pelayanan kesehatan dan tata kelola pelayanan Puskesmas dalam rangka upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara berkesinambungan, maka tentunya diperlukan dukungan dari berbagai lintas program dan pemangku kepentingan lainnya.

Untuk meningkatkan mutu pelaksanaan pembinaan tersebut maka perlu dibentuk tim pembina di dinas kesehatan daerah kabupaten/kotayang melakukan pembinaan secara terpadu ke Pusksmas. Tim Pembina ini disebut sebagai Tim Pembina Cluster Binaan (TPCB) sebagaimana yang diamanatkan Permenkes yang mengatur tentang Puskesmas. Selain itu, dinas kesehatan daerah kabupaten/kota dalam melakukan pembinaan dan pengawasan memerlukan dukungan dari dinas kesehatan daerah provinsi.


Kamis, 26 Oktober 2023

Pengelolaan P3DN SIPD

Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) adalah salah satu upaya Pemerintah untuk mendorong masyarakat agar lebih menggunakan produk dalam negeri dibandingkan produk impor. P3DN perlu senantiasa didorong dalam rangka pemulihan ekonomi nasional.

Untuk memantau upaya peningkatan P3DN, kemendagri memberika fasilitas aplikasi pemantauan P3DN yang terintegras dengan SIPD (Sistem Informasi Pembangunan Daerah).  SIPD sendiri merupakan salah satu tools penting dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan di daerah, terutama dalam hal ketersediaan data yang valid untuk analisis perencanaan pembangunan dan pemetaan.

Untuk pengelolaan SIPD P3DN dapat diakses pada paparan terlampir berikut :


Minggu, 11 Juni 2023

Rancang Bangun Inovasi Penurunan AKI

Angka kematian ibu (AKI) terkait erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai kerangka kerja global untuk pembangunan berkelanjutan. AKI menjadi bagian dari SDG 3, yaitu "Mengakhiri semua bentuk kelaparan dan malnutrisi, mencapai ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan, serta meningkatkan gizi manusia."

SDG 3.1 secara khusus bertujuan untuk "mengurangi angka kematian ibu secara drastis di seluruh dunia". Targetnya adalah mencapai angka kematian ibu kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup. Selain itu, SDG 3.7 juga bertujuan untuk "menyediakan akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang aman, terjangkau, dan berkualitas."

Untuk mencapai tujuan SDG terkait angka kematian ibu, banyak upaya yang dilakukan, seperti:

Peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan maternal: Dalam rangka mencapai SDG 3.1, penting untuk memperluas akses terhadap pelayanan kesehatan maternal yang berkualitas. Ini meliputi akses ke fasilitas kesehatan yang aman, layanan prenatal dan persalinan yang memadai, perawatan postnatal, dan perawatan kehamilan yang komprehensif.

Pendidikan dan pemberdayaan perempuan: SDG 3 juga terkait dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5 (Kesetaraan Gender). Meningkatkan pendidikan dan kesehatan perempuan, serta memberikan kesempatan yang setara dalam pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi politik, dapat berkontribusi dalam mengurangi angka kematian ibu.

Peningkatan akses terhadap kontrasepsi dan perencanaan keluarga: SDG 3.7 menekankan pentingnya akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang aman dan terjangkau. Ini termasuk akses terhadap kontrasepsi modern, perencanaan keluarga, dan informasi yang tepat tentang kesehatan reproduksi.

Kolaborasi dan kemitraan: Mencapai target SDG yang terkait dengan angka kematian ibu memerlukan kerja sama antara pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, masyarakat sipil, dan komunitas lokal. Kolaborasi ini memungkinkan berbagi sumber daya, pengalaman, dan pengetahuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

SDGs secara keseluruhan memberikan kerangka kerja yang luas untuk upaya global dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi ketimpangan sosial. Dalam hal angka kematian ibu, implementasi SDGs dapat membantu mengarahkan kebijakan dan program untuk mengurangi angka kematian ibu secara signif

Angka kematian ibu (AKI) mengacu pada jumlah kematian ibu yang terjadi akibat komplikasi selama kehamilan, persalinan, atau dalam 42 hari setelah persalinan, per 100.000 kelahiran hidup. AKI merupakan indikator penting dalam mengevaluasi kualitas pelayanan kesehatan maternal dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Menurut data yang tersedia hingga pengetahuan saya pada September 2021, angka kematian ibu di Indonesia masih cukup tinggi, meskipun telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka kematian ibu di Indonesia adalah 305 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan dengan tahun 2013, ketika angka kematian ibu mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup.

Untuk menurunkan angka kematian ibu, diperlukan inovasi dan upaya terus-menerus dalam bidang kesehatan maternal. Berikut adalah beberapa inovasi yang telah diadopsi dan terbukti efektif dalam menurunkan angka kematian ibu : 

  1. Akses dan pemantauan prenatal yang ditingkatkan: Program prenatal yang komprehensif, termasuk pemeriksaan rutin, tes laboratorium, dan pemantauan kesehatan ibu dan janin, dapat membantu mendeteksi dan mengelola masalah kesehatan yang mungkin muncul selama kehamilan.
  2. Peningkatan akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan: Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan maternal dengan membangun atau meningkatkan jumlah dan kualitas fasilitas kesehatan, terutama di daerah pedesaan atau terpencil, dapat membantu meningkatkan aksesibilitas ibu hamil ke perawatan yang tepat waktu.
  3. Pelatihan dan dukungan bagi tenaga medis: Melatih petugas kesehatan, terutama bidan dan tenaga medis di wilayah yang sulit dijangkau, dalam deteksi dini dan penanganan komplikasi kehamilan dan persalinan dapat menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. 
  4. Pendekatan komunitas dan advokasi: Melibatkan komunitas secara aktif dengan program kesehatan maternal, termasuk kampanye kesadaran, pendidikan kesehatan, dan dukungan sosial, dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya perawatan prenatal dan persalinan yang aman. 
  5. Teknologi kesehatan: Penerapan teknologi kesehatan seperti telemedicine, aplikasi seluler, dan sistem informasi kesehatan dapat meningkatkan aksesibilitas, pemantauan, dan pertukaran informasi antara ibu hamil, petugas kesehatan, dan fasilitas kesehatan. 
  6. Peningkatan akses terhadap kontrasepsi dan perencanaan keluarga: Menyediakan akses yang lebih baik terhadap kontrasepsi modern dan perencanaan keluarga dapat membantu mengurangi risiko kehamilan yang tidak diinginkan atau terlalu sering, yang dapat berpotensi meningkatkan risiko kematian ibu. 
  7. Kolaborasi dan kemitraan: Kerja sama antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dapat memperkuat upaya untuk mengurangi angka kematian ibu melalui berbagi sumber daya, peningkatan kapasitas, dan implementasi program bersama.
Dari beberapa inovasi diatas dapat dikembangkan dan dibuat lebih spesifik berdasarkan analisis SWOT masing-masing daerah. Saling kolaborasi dan meningkatkan peran serta masyarakat adalah salah satu kunci keberhasilan inovasi untuk menurunkan angka kematian ibu.

Selasa, 04 April 2023

Analisis Determinan Faktor AKI


Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kematian ibu. Beberapa faktor utama termasuk:

Komplikasi selama kehamilan

Beberapa kondisi medis seperti tekanan darah tinggi (preeklampsia), diabetes gestasional, perdarahan antepartum (sebelum persalinan), dan infeksi dapat menyebabkan komplikasi yang berpotensi fatal bagi ibu.

Komplikasi saat persalinan

Persalinan yang sulit atau tidak normal, distosia bahu (bayi terjebak di bahu ibu), perdarahan postpartum (setelah persalinan), infeksi pasca persalinan, atau pecahnya rahim dapat menjadi faktor penyebab kematian ibu.

Akses terbatas ke pelayanan kesehatan

Kurangnya akses atau keterbatasan dalam pelayanan kesehatan maternal, terutama di daerah pedesaan atau terpencil, dapat menghambat deteksi, pengobatan, atau perawatan yang tepat saat terjadi komplikasi.

Kurangnya pengetahuan dan pendidikan

Kurangnya pengetahuan ibu tentang perawatan prenatal yang baik, tanda-tanda bahaya selama kehamilan atau persalinan, serta kurangnya pemahaman tentang pentingnya pelayanan kesehatan maternal, dapat mempengaruhi kesadaran ibu terhadap kesehatan mereka sendiri.

Faktor sosio-ekonomi

Kondisi sosial dan ekonomi yang rendah, seperti kemiskinan, kurangnya pendidikan, akses terbatas ke air bersih, sanitasi yang buruk, dan gizi yang tidak memadai, dapat meningkatkan risiko kematian ibu.

Konflik dan keadaan darurat

Di daerah yang terkena konflik bersenjata atau bencana alam, sistem kesehatan sering kali terganggu, menyebabkan penurunan akses dan kualitas pelayanan kesehatan maternal, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kematian ibu.